Showing posts with label Kesaksian. Show all posts
Showing posts with label Kesaksian. Show all posts
5 Menit Telah Menyelamatkan Nyawa Saya
5 Menit Telah Menyelamatkan Nyawa Saya

Shalom,saya ingin berbagi pengalaman dengan teman-teman sekalian. Kejadian berawal kemarin (20 Juni) sekitar jam 10 malam saat saya mengendarai mobil dengan sepupu di daerah lampu merah ke arah Tugu Tani dari arah kebun sirih. Tiba-tiba kaca depan kiri sepupu saya yang sedang menelpon di gedor-gedor dengan pemuda yang masih belasan tahun. Kita kaget dan berteriak lalu pemuda itu meminta handphone sepupu saya. Lalu beliau sembari menunjukkan besi di perutnya, dan langsung tiba-tiba menghantam kaca depan mobil saya. Perasaan saya hanya bisa melihat kaca mobil yang timbul retak-retak dan mulai berjatuhan serpihan kacanya.

Lalu saya berpikir apa yang harus saya lakukan sedangkan lampu merah masih lama, dan tidak ada satu orang pun yang menolong kami. Dan sempat beliau memukul kaca depan mobil kami,akhirnya saya berteriak TUHAN YESUS dan langsung masukkin gigi mundur. Tiba-tiba mobil saya nabrak mobil di belakang dan Pemuda tersebut meninggal kan mobil kami begitu saja. Akhirnya setelah mundur, saya mengambil jalan sebelah kanan. Lalu mobil belakang saya mengklakson mobilnya agar minta pertanggung jawaban saya. Tapi setelah melihat kaca depan mobil hancur,beliau hanya mengangkat tangannya (seolah –olah memberitahu it’s oke). Karena saat itu saya shock dan tidak berani turun karena pemuda itu belum jauh meninggalkan mobil kami.

Dan lampu hijau menyala, saya langsung pulang ke rumah. Dan saya hanya bisa berdoa mengucap syukur sepanjang perjalanan dan di rumah. Dan anehnya saya tidak sakit hati, tidak kesal dengan pemuda tsb. Dan saya berdoa Tuhan mau mengampuni dan menjamah hati Pemuda itu. Dan saya percaya segala sesuatu yang terjadi adalah yang terbaik untuk kehidupan saya.

Saya tak bisa membayangkan jika saya tidak menyebut nama Tuhan Yesus, mungkin ada beberapa kejadian :
1. Kaca sebelah kiri depan sudah di hantam oleh pemuda tsb untuk mengambil handphone sepupu saya.
2. Mobil di belakang saya menuntut ganti rugi

Akhirnya saya membawa mobil tsb untuk claim asuransi.
Dengan kejadian ini, Tuhan Yesus berkarya untuk kehidupan aku.

Thank you Lord.

God Bless You.

Sumber: pondokrenungan.com
Baca Selengkapnya...
Labels: 0 comments |
1 Jam yang Tuhan Minta
1 Jam yang Tuhan Minta

Sering saya dengar dalam khotbah ditanyakan: “Tuhan memberikan kita 24 jam sehari, 7 hari seminggu tapi berapa lama kita berikan untuk Tuhan?” Pertanyaan ini suka mengganggu diri saya. Terus terang saya tidak bisa berdoa lama. Berdoa 5 menit bagi saya terlalu lama dan melelahkan. Untungnya Tuhan yang kita imani memang sangat baik. Dia mengajari dan menuntun saya sampai bisa menikmati saat-saat doa.

Tuhan merubah saya dari buku psikologi rohani yang saya baca. Penulisnya mengatakan salah satu kemungkinan kita tidak bisa berdoa karena ada luka batin. Kalimat ini sangat menghentak saya. Bahkan seluruh isi buku merobek-robek pikiran. Betapa tidak, ciri-ciri manusia luka batin yang dijelaskan dalam buku itu persis seperti diri saya saat itu.

Dari situ Tuhan menuntun saya mengikuti retret penyembuhan luka batin. Tapi ada satu penghalang besar. Saya orang yang sangat tertutup pada masalah pribadi, apalagi pengalaman pahit masa lalu. Pengalaman masa lalu cenderung saya lupakan begitu saja. Waktu membaca buku itu pun saya bertanya dalam hati: luka batin apa yang saya punya? Saya tidak merasa dilukai dalam hidup ini. Saya baik-baik saja. Kemudian saya ketahui sifat seperti ini pun sebenarnya menunjukkan adanya luka batin itu sendiri.
Saya berangkat dengan rasa kuatir retret akan sia-sia karena saya tidak mampu mengenali luka batin itu. Juga rasa pesimis tidak mampu mengangkat luka itu mengingat sifat saya yang lebih suka menutup dari pada membicarakan. Bersyukur Tuhan mengutus seorang pendamping bijaksana dalam retret. Ia berhasil meyakinkan saya dengan satu analogi sederhana: "Umpamakan dirimu sebuah radio rusak yang dibawa ke tukang servis. Seperti pemilik radio memasrahkan radionya diservis ahlinya sampai jadi benar, demikian pun serahkan dirimu kepada ahlinya. Dia tidak akan salah servis karena tukangnya adalah Pencipta dirimu sendiri".

Sebuah analogi menarik. Di tengah keragu-raguan saya, Tuhan mau menservis diri saya. Saya berusaha berserah dan memohon Roh Kudus agar mampu melihat sisi gelap hidup saya. Selama retret saya merasa Tuhan begitu dekat. Saya jadi percaya sikap berserah diri pada Tuhan membuat Dia memiliki ruang gerak untuk bebas bekerja dalam diri saya.

Makin saya rasakan hadirat Tuhan, makin saya membuka hati. Hingga pada saat diagnosa …ketika dituntun merenungkan masa lalu…Tuhan dengan sangat jelas menunjukkan dalam batin saya suatu bayangan masa lalu ketika masih kecil kira-kira baru belajar jalan. Saya tidak tahu persis itu kejadian apa tetapi ada suatu getaran batin yang sangat kuat terhubung dengan fenomena itu sampai air mata keluar tanpa bisa dihentikan. Fenomena itu terus menerus muncul, begitu hidup dan nyata, saya melihat diri saya yang masih kecil sedang memandang ayah dan ibu dengan rasa empati yang sangat dalam.

Buru-buru habis renungan saya menelepon ibu. Saya minta ibu menceritakan pengalaman buruk keluarga ketika saya masih berusia 1-2 tahun. Ibu mengingat-ingat, menceritakan satu demi satu hingga sampai pada satu cerita yang sangat menyentuh hati. Ayah ibu saya pernah disidang oleh warga sekampung dalam suatu kerumunan masa karena suatu masalah bisnis. Menurut ibu, ketika itu saya berumur 1,5 tahun dan saya ada bersama mereka pada saat kejadian.

Waktu ibu cerita peristiwa itu, saya merasakan kembali suasana seperti yang muncul dalam renungan sebelumnya. Saya merasakan suatu ketegangan yang luar biasa dialami ayah dan ibu. Tanpa sadar “penyakit” tegang itu saya bawa terus hingga usia 33. Selama itu saya mengalami rasa tegang tanpa alasan kalau melihat kerumunan orang. Sangat tidak nyaman berada di tengah kerumunan orang. Saya mungkin satu-satunya mahasiswa yang tidak pernah ikut demo waktu awal jaman reformasi. Di kantor kalau ada rapat saya selalu pilih tempat paling belakang, itu pun masih duduk dalam keadaan tegang bahkan kadang badan gemetar tak beralasan. Setahun belakangan semakin parah, baru dengar akan ada rapat saja rasa tegang sudah datang.

Pengalaman traumatik (luka batin) seperti yang saya alami ternyata sangat menghambat relasi dengan Tuhan. Tapi Tuhan murah hati, Ia membebaskan saya dari belenggu yang menghambat saya merasakan kasihNya. Selama ini saya hanya bisa mendengar orang mengatakan kasih Tuhan begitu indah. Kini Dia mengijinkan saya mengalami sendiri kasihNya itu. Saya ingin ceritakan buah dari karya Tuhan pada diri saya:

Pertama, empat hari sepulang retret ada rapat di kantor. Dengan santai saya mengikuti rapat dan duduk di bagian depan, sesuatu yang langka terjadi. Sudah setengah perjalanan rapat baru saya sadar: koq saya duduk di depan? Tempat saya bukan di sini, biasanya saya duduk paling belakang. Saya lupa dengan ketegangan-ketegangan itu. Saya benar-benar sudah disembuhkan Tuhan.

Kedua, Tuhan dengan kasihNya yang tulus membolehkan saya merasakan hadiratNya yang begitu indah sehingga waktu berdoa 5 menit rasanya selalu kurang. Bahkan ada saat-saat dimana Dia rindu mencurahkan kasihNya, rindu mendengar pujian dan ungkapan syukur. Untuk itu Dia butuh waktu yang tentu saja tidak cukup hanya 5 menit.

Suatu pagi, anak saya (5thn) mengajak saya untuk bermain. Saya janji bermain tetapi saya minta waktu berdoa sebentar. Saya lihat saat itu pkl 6.35. Awalnya saya berdoa biasa, mengucap syukur, menyampaikan permohonan dsb. Tiba-tiba saya merasakan sukacita luar biasa. Dalam suasana itu mengalir dengan lancar kalimat-kalimat doa yang selama ini tidak pernah saya alami. Ada rasa mantap yang luar biasa dalam batin sehingga yang saya inginkan hanya mengucap syukur dan memuji-muji Tuhan tanpa putus. Saya sadar penuh anak saya 4 kali datang menepuk bahu saya, mengajak saya berhenti berdoa dan segera bermain dengannya tetapi dorongan untuk tetap memuji Tuhan lebih kuat dari ajakan anak itu. Saya sadar juga sudah duduk berdoa jauh lebih lama dari biasanya tetapi saya terus merasakan hadirat Tuhan. Begitu suasana itu hilang saya baru menutup doa dan kembali melihat jam, pkl 7.35. Tuhan mengundang saya mengalami kasihNya 1 jam tepat, tidak lebih dan tidak kurang.

Pernah juga suatu malam saya terbangun pkl 3.00. Berhubung saya bangun harusnya jam 4.00 maka saya tidur lagi. Hari berikut saya pun terbangun pada jam yang sama dan kembali tertidur karena belum waktunya bangun. Anehnya, malam ketiga saya terbangun lagi tetapi 5 menit lebih cepat dari dua malam sebelumnya.

Saya tergelitik dengan peristiwa ini jadi saya merenung sebentar lalu memutuskan bangun berdoa. Sebelum tanda salib saya melihat jam 3.00. Saya berdoa rosario seperti kebiasaan tiap pagi. Pikir saya setelah rosario bisa tidur lagi, lumayan masih 40 menit. Yang terjadi, sebelum rosario selesai, dorongan untuk tetap berdoa datang lagi. Dan seperti kejadian-kejadian sebelumnya, kalimat doa, nyanyian syukur dan pujian mengalir dari suasana hati yang penuh sukacita. Saya sadar sudah berdoa lebih lama dari biasanya bahkan sempat mengatakan: “Tuhan kapan berhentinya…rasanya sudah lama saya berdoa” tetapi saya tidak menemukan alasan untuk berhenti begitu saja. Saya mengikuti suasana itu sambil menyampaikan ujud-ujud doa disertai puji-pujian dan ucapan syukur. Begitu dorongan itu mereda, saya menutup doa dan seketika itu juga weker berbunyi tepat jam 4.00. Tuhan meminta saya merasakan kasihNya 1 jam tepat, tidak lebih dan tidak kurang.

Dua kejadian ini hanya sebagian dari pengalaman menarik dimana Tuhan memberi kesempatan saya menikmati saat-saat doa yang dulu tidak pernah saya rasakan. Saya sangat bersyukur Tuhan membolehkan saya mengalami semua ini. Bagi saya, pengalaman ini meneguhkan saya bahwa Tuhan ingin mencurahkan kasihNya kepada manusia tetapi Dia butuh keterbukaan hati dan ketulusan memberi kesempatan padaNya. Tuhan tidak minta waktu di luar kesanggupan kita, Dia sangat toleran dan memahami kemampuan manusia sebab 1 jam adalah rata-rata waktu yang ideal bagi seseorang untuk berdiam diri.

Sumber : http://www.pondokrenungan.com

Baca Selengkapnya...
Labels: 0 comments |
10 menit dari Tuhan yang menyelamatkanku
10 menit dari Tuhan yang menyelamatkanku

saya hari ini benar-benar beruntung dan bersyukur kepada Tuhan atas keselamatan yang diberikan kepada saya, sehingga saya terhindar dari ledakan bom.

Saya berangkat dari rumah sekitar pukul 08.05 WIB, dan saya menyempatkan diri untuk membayar listrik di PLN Cilangkap-CImanggis.

Saya lalu melanjutkan perjalanan dengan melewati Jl. TB Simatupang, ketika sampai di perempatan Ragunan, saya sempat ragu mau lewat mana, kemudian saya memutuskan untuk melewati Warung Buncit, Mampang, dan masuk ke Jl. HR Rasuna Said dengan harapan keadaan jalan yang tidak begitu macet.

Karena panas Jakarta yang sangat panas, saya menyempatkan diri untuk minum teh botol di sebuah warung di depan Sentra Mulia (Markas ANTEVE) atau persisnya di seberang Stadion Kuningan Brojonegoro dan Kedubes Australia. Saya biasanya menghabiskan teh botol yang saya beli, namun karena saya merasa sudah kesiangan (saya sempat melihat jam sekitar pukul 10 lewat 30 menit (jam digital saya kecepatan 10 menit-kebiasaan buruk biar tidak terlambat ke kantor), itu berarti jam 10:20. Selesai membayar, saya melanjutkan perjalanan ke kantor. Ketika saya belok ke kiri menuju Sudirman dengan melewati Hotel Regent dan Landmark, saya merasa ada suara ledakan, saya kira itu adalah ban meletus atau yang lainnya, saya tidak sempat berpikir bahwa itu adalah ledakan bom.

Ketika sampai di kantor, saya kemudian mendengar dari teman-teman, bahwa terjadi ledakan di Sentra Mulia...lha kan saya jadi bingung, lhawong tadi saya malah minum teh botol di depan sentra mulia... ternyata setelah itu saya tahu kabar bahwa yang ledakan di depan kedubes australi sekitar jam sebelasan... sambil tidak percaya, saya kemudian mencari info kepastian jam meladak..dan saya membuka detik.com yang tertera jam ledakan adalah sekitar 10.30. saya cuma diam...berpikir...ajaib karena saya masih bisa hidup...ternyata selisih 10 menit itu adalah sangat berharga...bayangkan kalau saya beristirahat terlalu lama...paling tidak...telinga saya bisa tuli karena ledakan.

Sekali lagi... Terima kasih kepada Tuhan...

Sumber: http://www.pondokrenungan.com
Baca Selengkapnya...
Labels: 0 comments |
Kesaksian Kesembuhan
Saya mau bersaksi atas kesembuhan cucu saya yang telah disembuhkan oleh Tuhan secara ajaib. Cucu saya pada usia 38 hari terkena penyakit yg tdk ketahui penyebabnya sehingga hrs dirawat di ICCU.

Dgn berbagai peralatan spt : transfusi darah,oksigen,kateter dll. Kami semua takut, cemas. Kami berdoa, membaca firman terus menerus. Pd hari kedua malam saya masuk ke ruang ICCU dgn membawa kitab suci dan minyak urapan yg saya usapkan pada kepalanya. Keesokan paginya saya membawa acara kebaktian di kantor dan minta pada teman-teman utk ikut mendoakan cucu yg rencananya akan dioperasi pd siang hari. Saya percaya Tuhan pasti sedang menjamah dan memulihkan cucu saya dan Puji Tuhan dokter nyatakan tdk jadi operasi. Hingga hari ini dlm keadaan sehat dan gemuk, meskipun dokter katakan bahwa bila sembuh akan mengalami lumpuh atau kurang pendengaran. Ternyata Tuhan nyatakan sembuh total, karena Tuhan adalah tabib yang ajaib. Percayakan segala sesuatu pada kuasa Tuhan dan selalu setia padaNYA. Baca Selengkapnya...
Labels: 0 comments |